Antara kamu, Yunisa KD, dan novel-novelnya

7 kualitas untuk menjadi penulis fiksi (oleh Roald Dahl)

Yunisa KD • Aug 5, 13 • Coretan, Tips MenulisTidak ada Komentar

>> Facebook Notes September 15, 2009, 6:29pm

1. Kamu harus punya imajinasi yang hidup.

2. Kamu harus mampu menulis dengan baik. Kamu harus mampu membuat adegan seakan nyata / hidup di pikiran pembaca. Tidak semua orang punya kemampuan ini. Ini adalah “bakat”, kamu punya ini atau tidak sama sekali.

3. Kamu harus punya stamina. Kamu harus mampu terus melakukan apa yang kamu lakukan, tidak pernah menyerah, jam demi jam, hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan.

4. Kamu harus jadi perfeksionis. Tidak pernah puas dengan apa yang sudah kamu tulis sampai kamu tulis ulang, lagi dan lagi, sebaik yang kamu bisa.

5. Kamu harus punya rasa disiplin pribadi yang kuat. Bekerja sendiri, tidak ada bos. Tidak ada yang memecatmu kalau kamu (tidak menulis) atau memarahimu kalau kamu mulai malas.

6. Sangat menolong kalau kamu punya rasa humor. Tidak wajib bagi penulis naskah orang dewasa, tetapi untuk naskah anak-anak, sangat penting.

7. Kamu harus punya tingkatan rendah hati / perikemanusiaan. Penulis yang berpikiran karyanya luar biasa akan menghadapi masalah.

Dari The Wonderful Story of Henry Sugar n six more

Catatan pribadi:
Aku sadar aku bukan pelawak dan tidak semua orang ngerti lawakanku (karena perlu IQ tertentu untuk menangkap lucunya hal-hal yang aku coba sampaikan. Selama ini – (ini kutulis 2009 lho), hanya orang-orang tertentu dengan “pengalaman” tertentu, baru menganggapku lucu. Puji Tuhan.

Aku juga tahu kalau tulisanku terlalu dramatik untuk kebanyakan orang normal… dan aku pernah dapat masalah karena tidak didukung orang tua… (jadi aku butuh suami yang mendukung)… Tetapi aku mau berpikir bahwa semua hal yang terjadi dalam hidupku karena Dia mau begitu.

Saat aku mendapat inspirasi, artinya Dia menyuruh para malaikat sibuk mentransfer getaran surgawi ke aku, sama seperti para malaikat juga telah menginspirasi Michaelangelo, Leonardo da Vinci atau bahkan William Shakespeare 😀 >> ini dari buku cerita teenlit yang kubaca zaman itu.

Aku bilang ke adik-adik dan sahabat-sahabatku, kadang aku melihat adegan (seperti di film) dan aku ngebet banget untuk menuliskannya… dan aku tidak bisa tidak tertawa saat menuliskannya seakan aku bisa membayangkan pembaca dan semua yang menonton “film” itu akan tertawa, menangis, atau misuh-misuh… karena aku memainkan emosi mereka dalam adegan itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *