Antara kamu, Yunisa KD, dan novel-novelnya

Proses Kreatif #SepotongKataMaaf

Yunisa KD • Sep 4, 13 • Coretan, Tips MenulisTidak ada Komentar

Bagi yang sudah membaca #SepotongKataMaaf, tentunya menyadari keunikan novel ini: tokohnya sedikit sekali.
Antagonis hanya satu orang: Lisa Hisman
Korban si antagonis (bukan tokoh jahat, tetapi “dibutakan” oleh cinta): Armand Santos
Protagonis:
1. Jeremy Soebroto
2. Dewi Saraswati Galuh Oetomo
3. Roger Gunawan

Di sepanjang novel, aku memakai 3 sudut pandang. Mengantisipasi agar tidak diprotes, aku menulis dengan jelas (memakai *), itu sudut pandang siapa 😛

Sebagian besar tentu saja itu sudut pandang Jeremy (tokoh utama yang akhirnya “belajar sesuatu”). Kedua, tentu saja sudut pandang Dewi (yang “membukakan” mata si Jeremy). Sementara Roger itu hanyalah sudut pandang “penonton”…

Seperti yang kutulis di sampul buku, ya, novel ini terinspirasi dari kisah nyata. Email korespondensi itu benar-benar ada (cuma diedit typo dsb). Dan pastinya, tokoh Armand dan Lisa memang ada. Betapa makan hatinya si Armand karena Lisa, wanita yang dia cintai dengan sungguh-sungguh, sampai mati pun masih mencintai pria lain (Jeremy).

Siapa yang bilang, hanya cewek yang selalu jadi korban cinta. Aku melihat dan mengalami sendiri: Armand adalah korban cinta. Lisa yang ganjen, pinter “ngeles” sehingga Armand harus menelan harga dirinya sebagai pria 🙁

Dan kalian yang membaca pasti emosi banget sama si Lisa kan? (dari masukan beberapa pembaca yang nge-twit atau Fesbuk-an). Padahal di novel ini, seberapa banyak tokoh Lisa muncul langsung, mengeluarkan sepatah dua patah kata? Tidak banyak. Nyaris dapat diabaikan. Tetapi emosi pembaca tetap terusik dengan karakter Lisa Hisman. Kenapa begitu ya? Jawaban yang bisa kuberikan: Mungkin karena aku menceritakan dengan jujur apa yang kurasakan. So, write from your heart.

Pembaca juga pastinya tahu pasti kalau pengarangnya benci banget dengan tokoh Lisa Hisman. Dan motivasi pertama menulis novel ini adalah mengubah sesuatu yang buruk menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi banyak orang. Dari pertama aku sudah bertekad, ini harus dijadikan duit dan disumbangkan untuk amal. Jadi, ketika aku menuliskan cerita ini, walau sambil nangis darah, sambil misuh2, aku juga menyusun plot. Tentu saja hidup-mati manusia itu ada di tangan Tuhan. Tetapi sebagai novelis, kita punya hak prerogatif pengarang: menovelkan antagonis, dan membunuhnya sesuka kita. (Yuk, jadi pengarang!)

Dalam adat Jawa, angka 7 itu keramat – pitu, pitulungan (pertolongan), seperti yang juga kutulis di novel. Jadi aku memutuskan untuk “membunuh” Lisa tujuh kali. Aku mulai bikin daftar: cara orang mati. Dan dari situ, aku mulai menjahit adegan-adegannya. Lalu memutar urutan matinya – sampai aku merasa “sreg” dan puas. Sudah pas.

“Tulang” dari novel #SepotongKataMaaf adalah Lisa mati tujuh kali di tujuh dimensi. Tidak ada outline atau kerangka karangan atau semacamnya. Langsung tulis. Yup, aku bukan novelis yang rapi nulisnya. Aku menulis suka-suka, moody, dan “precise” (apa adanya). Setiap orang punya cara menulis yang berbeda. Don’t be afraid to be different! Keep writing!

PS: Tokoh Lisa Hisman ini masih bersambung lho sebenarnya, ke novel lain yang belum rampung… Memang kalau jadi pengarang itu, begitu “dapet” satu karakter yang bisa dikembangkan, ide cerita tidak pernah habis 😀

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.