Antara kamu, Yunisa KD, dan novel-novelnya

Penokohan di #SepotongKataMaaf

Yunisa KD • Oct 3, 13 • Coretan, Tips MenulisTidak ada Komentar

Aku utang membahas ini udah lama… Sori ya, sibuk banget sama kerjaan $$$.
By now, udah banyak yang bilang karakternya agak lebay 😛 Let me assure you, semua tokoh (kecuali Roger Gunawan) memang diambil dari manusia nyata.

1. Armand Santos
Kalian yang membaca pasti mikir, gebleg banget ya ini Armand, mau-maunya “diduakan” oleh Lisa. Kok ada cowok yang butanya sampai segitu?
Ingat, Armand dikabarkan sudah menyukai Lisa sejak kuliah (bertahun-tahun). Dan dua insiden yang menjadi latar belakang konflik di #SepotongKataMaaf ini terjadi di saat Armand dan Lisa sudah bertunangan dan tanggal kawin, gedung, tetek bengek resepsi segala macam sudah siap. Singkat kata, semua orang di lingkungan mereka sudah tahu kalau Armand dan Lisa akan kawin 3 November 2012.

Makan ati? Kalau si Armand jujur terhadap diri sendiri, kita semua yakin, pasti makan ati. Tetapi ongkos finansial yang sudah dikeluarkan plus reputasi keluarga Armand, tentu saja berada di ujung tanduk kalau Armand tiba-tiba memutuskan untuk membatalkan pernikahannya dengan Lisa. Apalagi karakter Armand sendiri terbukti adalah pria lemah, yang bisa disetir oleh Lisa. (Nantikan sambungannya di novel lain tentang mediasi gereja sebelum acara pemberkatan nikah mereka). Jadi kita harus maklum kalau akhirnya Armand memutuskan “tutup mata, tutup kuping” terhadap fakta pahit: bahwa hati Lisa memang masih diberikan kepada pria lain. Toh faktanya, akhirnya Lisa tetap menjadi istrinya, tubuh Lisa tetap dimiliki oleh Armand.

2. Lisa Hisman
Show, don’t tell. Ini teknik yang kupakai untuk menunjukkan seperti apa watak Lisa Hisman. Dari email yang dia tulis, para pembaca bisa menyimpulkan sendiri betapa manipulatif, pembohong, dan kurang ajarnya Lisa. Sama sekali tidak menjunjung nilai-nilai dan norma Indonesia, walaupun dia lahir dan dibesarkan sampai SMA di Surabaya.

Karena Armand yang tidak tegas, tentu saja Lisa memegang kendali dalam hubungan mereka (baca: dari pacaran sampai kawin). Lisa bisa berbuat seenak sendiri, sementara Armand yang berlaku sebagai wanita (tutup mata & kuping walau pasangan selingkuh hati).

3. Dewi Saraswati Galuh Oetomo
Yes, she is perfect. Anak orang kaya, cantik, pintar, dan sexy. Dia juga meminta kesempurnaan dari pasangan. Dewi dibesarkan dengan didikan adat Timur yang ketat, menjunjung tinggi bagaimana harus bersikap terhadap orang lain. Dewi sama sekali tidak menyangka bahwa Jeremy, suaminya, ternyata sangat naif. Dan “kepolosan” Jeremy itulah yang menghantam Dewi secara psikis – karena dialah yang harus “membimbing” Jeremy bahwa orang Indonesia itu harus menjunjung tinggi sopan santun, kalau berteman itu harus suami-istri, dan berbagai hal kecil namun penting.

Sebagai wanita normal, Dewi mengharap Jeremy bisa berpikir untuk dirinya sendiri dan melindungi istri. Tapi faktanya, justru Dewi yang harus berjuang melindungi harga dirinya sendiri. Hal inilah yang membuat Dewi marah, sedih, kecewa, depresi, sakit hati (ingat dia anak orang kaya, dia bisa saja kawin dengan anak orang kaya yang sudah tahu aturan sosial pergaulan). Kalau si Jeremy itu lebih tegas, sudah pasti Dewi tidak akan sampai depresi. Kelemahan Dewi adalah idealismenya yang tinggi, didukung oleh cara pandangnya yang hitam-putih terhadap segala hal.

Mencuekkan Lisa, menganggapnya angin lalu? Well, aku sudah mencantumkan banyak kutipan, salah satunya oleh Albert Einstein. Intinya, dunia itu hancurnya karena banyak orang yang cuek bebek terhadap sesuatu yang salah/jahat. Mungkin prinsip moral ini terlalu idealis bagi sebagian besar pembaca, but as a writer, I want to encourage my readers to take a firm stand against evil. Be the top 1% of this world’s population, jadilah orang yang berani mati demi membela kebenaran.

4. Jeremy Soebroto
Karakter ini berkembang dari polos/naif (menganggap semua orang itu baik seperti dirinya) hingga belajar mengetahui prioritas hidupnya. Kalau kita mencintai seseorang, tentu saja kita bakal berusaha mati-matian agar tidak mengecewakan orang tersebut dan mencapai standar performa yang diharapkan oleh orang tersebut. Dia sadar bahwa sikap lembeknya terhadap Lisa itu salah. (Nanti di sambungan cerita Lisa-Armand vs. Dewi-Jeremy ini, Jeremy akan semakin melek melihat betapa jahatnya si Lisa yang memfitnah dirinya di depan pendeta dan penatua – ups, bocoran!).

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.