Antara kamu, Yunisa KD, dan novel-novelnya

London & Beyond – a tribute to Mr Harry Suhartanto (RIP)

Yunisa KD • Oct 22, 13 • Coretan& Komentar

Dear Pak Harry
Seandainya Pak Harry masih hidup, aku yakin, aku pasti lebih heboh perginya ke London. Lah wong Pak Harry sudah berkumpul kembali dengan istri di Atas sana, aku aja masih pengin banget berbagi cerita.

Memori yang akan kukenang seumur hidup dari Pak Harry itu adalah Pak Harry ngerti aku banget karena kata Pak Harry, kita sepandangan. Kita malah lebih nasionalis daripada kebanyakan orang yang selamanya tinggal di Indonesia. Kita mau Indonesia bangga punya kita (dan tugas Pak Harry sudah selesai, aku belum). Kita juga tahu bahwa untuk sukses, kita nggak perlu jadi yang PALING pinter, tetapi kita memang harus PINTER dan bisa bergaul dengan siapa saja.

Oh ya, waktu kita nonton Taufik Hidayat dengan tiket Mediacorps itu – dan Pak Harry cerita bagaimana rasanya menonton sepak bola Indonesia vs. Singapura bersama kolega orang Singapur semua… HAHAHA… Aku kalau ingat, bawaannya jadi ketawa. (Tapi sedih kalau inget kita udah gak bisa ngobrol lagi). Dan Pak Harry baik hati sekali bilang terima kasih udah berusaha nerjemahin padahal saya cuma bisa menerjemahkan 10% or less dari omongan si JJ Lin di konser (ya saya kan sudah bilang: My Mandarin is worse than a kindergarten kid…). Waktu itu kemungkinan besar kita adalah the only two non-fans yang nonton konsernya ya.

Aku juga masih terpesona saat Pak Harry mewawancara Tante Jo untuk Pemilu Presiden di KBRI Singapura 2009. Kalau acara novelku, kita siarannya ketawa mulu, nggak serius… tapi soal politik dan kebangsaan, WOW, Pak Harry benar-benar hanya perlu narasumber yang tepat dan acara T&J jadi bikin saya melongo. Saya masih utang menulis novel dengan tokoh utama cowok bernama Harry ya, Pak. Udah ditulis sejak Nov 2012 di Swedia, tapi belum rampung sampai sekarang…

Pak Harry, aku sedih karena rekan-rekan BBC London Pak Harry ada yang mau menghapus Pak Harry dari intranet(?) BBC Indonesia di London. Menurutku itu kejam. Why can’t they leave “you” there? You are a big part of the history of BBC Indonesia! You deserve a “memoriam” despite you are no longer in this world. Lah tuh lihat, semua gereja, Westminster Abbey, Canterbury, St Paul – ada banyak memoriam / kuburan, persis yang Pak Harry ceritakan ke aku dulu…

Dan janjinya mereka mau call back, tapi gak ada yang call back sampai malam terakhirku di London. Padahal aku di sini lama… Yaaa, hampir kayak di Pekanbaru kapan hari, tapi untungnya Mas Robby langsung take over dan ketauan kalau petugas telepon sok jual mahal, gak mau nyambungin? Dan Pak Harry cuma ketawa pas aku cerita dan bilang, “Ya, begitulah… Lain ladang lain ilalang, lain lubuk lain ikannya.”

Speaking of the itinerary you made for me, I want to say thank you again. I really appreciate it, semua rekomendasinya TOP banget. Cuma sayang London Philharmonic Orchestra bulan ini tampil sekali tok, dan lagunya bikin depresi. (War Memorial). Aku masih heran, kok Pak Harry bisa tahu pasti seleraku? Tempat-tempat yang aku pasti seneng banget karena bisa melihat langsung, merasakan, mengalami apa yang Pak Harry ceritakan selama 2006-2010? sewaktu kita masih berjumpa langsung. Apa karena lagi-lagi selera kita mirip2 yak?

Canterbury Cathedral TOP banget. Westminster Abbey memang kuburan. St Paul TOP banget. Windsor Castle – saya ndlongop sepanjang waktu, Pak. Oxford dan Cambridge – harusnya Pak Harry pasang peringatan dong: jangan pakai kacamata Asia… Lah gedungnya kotor, gak terawat, banyak puntung rokok… Saya simpulkan yang bagus itu dosennya, bukan fasilitas fisik? Kayak kampus Pak Harry, Goldsmith College di University of London – daerah Kensington kan, Pak? *yakin* – juga dah lama nggak ada maintenance kayaknya, Pak. Mungkin duitnya abis buat bersihin Royal Albert Hall HAHAHHA

Dan semua orang di universitas pada hobi bersepeda. So I conclude Pak Harry dan Dr Dede jadi atlet sepeda itu karena kelamaan tinggal di UK hahahha 😀

Terus terang, aku baru tau kalau Goldsmith College itu memang spesialis media dan jurnalisme, lho, Pak. Tadinya aku gak ambil pusing ngecek pengalaman kuliah Pak Harry… Maafin, ya, Pak. Abisnya Pak Harry cuma cerita harus ngetik laporan jam 2 pagi karena Pak Harry “English networking” pakai Coke dan jus jeruk hehehe…

Kapan terakhir kita bertemu di Jakarta ya, Pak? Ingetnya Pak Harry traktir saya di Starbuck. Kayaknya pas aku baru keluarin Memory & Destiny, Mei 2010? Juni 2011 sewaktu aku dikirim kantor lama ke Jakarta, kayaknya kita cuma SMS-an aja… Dan habis itu kita makin jarang ngobrol ya, Pak, cuma sesekali via Facebook, walau isi obrolan juga masih sama serius / mbanyolnya…

Pak Harry, saya masih penasaran, kenapa Pak Harry sering menjadikan saya “narasumber” ajaran Kristen? Pak Harry selalu bilang, saya sering mengingatkan Pak Harry pada almarhum Om yang Kristen? Dan Pak Harry bilang tulisan-tulisan saya soal pemahaman cerita Alkitab yang dulu sering saya tulis di Multiply itu memberi pencerahan. Mungkin kapan2 saya harus upload lagi ya, Pak? For the sake of sharing with new readers… Siapa tahu masih banyak yang tertarik mengapa orang yang memutuskan untuk jadi Kristen taat dari kecil seperti saya, tidak boleh iri pada orang yang mudanya bejat dan baru jadi Kristen umur 60, misalnya.

Dari perjalanan ke London ini, ada satu kejadian bule tua (profesor Oxford kayaknya) yang ingin saya ceritakan ke Pak Harry, karena memang sealiran dengan Pak Harry untuk urusan bebek… Dan saya yakin Pak Harry bakal setuju dengan si bule. Oh ya Pak, saya juga ke Liverpool, liat pub si Beatles. And you know what, I make new friends in UK. I am sure you will tell me that it is expected because I am a very nice, warm, and friendly person… As you know, my haters will not say so hahahhaa… And I was quite surprised when you actually advised me to take a firm action, that I have to kick their butt – after I showed you what they have written about me. Busyet, Pak Harry ternyata garang juga 😀

Actually I have changed a lot for the past one year, Pak Harry, and I do not like the new Yunisa. I am sure you have sensed that from some of my Facebook posts. And thanks again to you, all of the places you recommended have helped me to regain my identity – that I am merely a tool for the Almighty – as I have prayed to be His tool since I was small. And as a tool, one cannot do anything once the Master is using this tool to amend this and that. Without this tool, the Master cannot fix the broken things. So what I need to do is just let the Master do His work.

And I want to learn from Christopher Wren, Pak Harry, the one who built St Paul Cathedral. It is the most beautiful church in the world, IMO, because of the investment in lighting and maintenance – mahal banget biaya bersihinnya – satu wing aja 10 juta pound? Bahkan Vatican kalah deh (karena gelap, lebih besar, lebih tidak terawat). Christopher Wren was very, very strategically smart. It is like yes, it is completed or you have nothing at all. It was a very risky and yet very smart move.

I also remember that you wanted to see my baby, as you are sure that she will be pretty like me… Oh well… you left this world so fast.
I talked to my new doctor friend, and she said your heart has been working very hard so that you were alive all these years and we got to know each other. I think she is right 🙂

Rest in Peace, Pak Harry. I can’t say for sure that I will see you again in my own time, but I do hope that will happen, somehow. Assuming my perception of Narnia is true.

written from Victoria, London

2 Balasan untuk London & Beyond – a tribute to Mr Harry Suhartanto (RIP)

  1. Yana says:

    Yunisa, Pak Harry meninggalnya kapan ini? Aku baru tau pas ga sengaja baca tulisanmu ini. Aku awalnya ga ngeh Harry Suhartanto yg kolegamu apa bkn, eh, ternyata iya. Meninggalnya di Jkt apa dmn ya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *