Antara kamu, Yunisa KD, dan novel-novelnya

Alasan Mulai Ngeblog

Yunisa KD • Apr 14, 21 • CoretanTidak ada Komentar

Menulis itu semacam terapi untukku. Menuangkan isi pikiran, pensieve ala Dumbledore yang penuh. Apalagi kalau lagi malas ngomong. Sometimes I express myself better in writing. Menulis itu juga untuk keabadian, kata Pramoedya yang bukunya malah belum kubaca. Somebody, put these Pramoedya books in my birthday gifts?

Pensieve

Pertama kali ngeblog itu tahun 2003? Disuruh teman-teman cowok termasuk yang sekarang jadi suami. Menurut mereka, aku seru kalau ketemu both in person dan mereka suka kalau terima email berisi cerita-cerita dariku. Zaman itu Xiaxue blogger terkenal di Singapore baru mulai juga. Tapi aku gak seniat dia hahahaha. Aku ngeblog bukan buat cari sponsor, endorsement, atau suami! Aku sangat “suka-suka gua”, emosian, disukai dan disirikin sama banyaknya. At least aku merasa begitu. Mana ada orang yang ketemu psiko beruntun? Eh tapi kok ketemu banyak banget orang baik. Jadi kayaknya aku masih lebih banyak positifnya, at least jadi manusia harus lebih banyak positifnya, kata Dr Dede.

Dulu itu ada “blog” bersama Kolom Kita, KoKi asuhan Zeverina, tempatku bertemu banyak orang baik seperti almarhum Suhu Gede Josh Chen (Aji), Ki Ageng (Dr Budiono), Piper (Dr Kathryn), Om Gun di California, Pak Janto di Swedia, dua ibu-ibu yang getol menjodohkanku dengan keponakan mereka: Sophie dulu di NJ pindah Beijing?, Ira Juwita di Sydney… juga SU Bumi yang niat banget kirim makanan, beneran sampai telepon ke kantor! She was such a blessing tapi sekarang entah lost contact, ganti HP? facebook gak aktif juga… Hope you and your family in Singapore are doing fine, Ci!

Yang belum pernah kopdar tapi masih akrab seperti kak Iwan dan kak Nani, asli ngakak kalau baca postingan mereka berdua. Mereka ini pasangan unik, toleransi super gede, Bhinneka Tunggal Ika sejati. TOP BGT!

Ngeblog bagiku itu semacam menulis email curhat panjang tapi lebih sopan, gak misuh-misuh hahahhaha 😅

Singkatnya, menulis itu membuat aku tetap waras, menemukan banyak teman sepemikiran, menjadi diri sendiri.

Kemarin suami nonton YouTube interview orang Amrik yang tinggal di Shanghai, soal pacaran beda bangsa, beda budaya. Ada tuh Cina Amrik, kulit hitam, bule, semua cerita. Budaya Amrik itu lebih ke “get along with the person”, sementara kebanyakan cewek Cina (Shanghai, Cinpur, Cinmal sama!) fokusnya DUIT, RUMAH. Singkatnya, MATRE!

Nah aku dari awal 20-an itu kayak bule dah. Kalau cocok ya aku tidak berkeberatan dari nol. Yang jelas, aku tidak suka cowok matre! Cowok itu harus mau kerja keras, bukan mengandalkan warisan! Bukan mengandalkan harta istri!

If I want to marry someone, dia harus bisa get along with me, terutama isi otakku yang world class, nilai-nilai yang kuanut, visi-misiku dalam hidup. Suami harus hands-on ngurus anak, anak itu tanggung jawab berdua, bukan cuma ibu. Suami harus bisa cari duit meski istri juga pinter cari duit. Anak-anak dari kecil harus dididik takut akan Tuhan dan SETIA sampai mati seperti Tuhan Yesus. Jadi susah lah cari yang sesuai kriteriaku. Aku sama sekali tidak mengutamakan fisik meski aku cantik.

Cowok kaya, Kristen, maunya aku jadi ibu rumah tangga tok til. Itu aku gak bakal happy, hidup di bawah bayang-bayang suami dan “digaji suami”… Disuruh dandan, mendampingi acara macam ibu pejabat… it’s just not like me.

Penyesalan terbesar suami adalah dark ages, masa kegelapan, Jahiliyah dia gak ke Gereja, gak berdoa jadi kena si perdukunan Cina Malaysia itu. Jadi sekarang aku menekankan ke anak-anak, jangan pernah sekali pun meninggalkan Tuhan! Kalau anak berantem, tidak mau gantian memimpin doa, aku bisa cerita betapa kita sudah beruntung bisa ngobrol langsung sama Tuhan!

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.