Antara kamu, Yunisa KD, dan novel-novelnya

7 Hal yang Paling Membuat Bahagia

Yunisa KD • Apr 25, 21 • CoretanTidak ada Komentar

1. Fakta: Tuhanku yang sayang sama anak-anak dan wanita (dan orang pinter meski kaya/berpangkat)

Yes, some people said I am religious, but I don’t feel that way. I just know and believe that my God loves children and women. He does not discriminate, does not belittle us. Itu membuatku bangga dan cinta banget dari kecil semasa aku sering dikatai “anak kecil, tau apa!”

“Biar kanak-kanak datang pada-Ku,” itu sabda Yesus, dia memanggilku.

Makin dewasa, makin sadar masyarakat sering meremehkan wanita. Tetapi Tuhanku tidak! Dia paham akan ibu yang sakit pendarahan 12 tahun lamanya. Dia membela Maria Magdalena (teoriku: feminis). Yang cowok penyeleweng gak kena hukum kok si cewek doang yang mau dirajam? Yang penting itu hatinya dan bertobat.

Tuhanku memuji perwira yang beriman. Orang Katolik memakai kalimat si perwira ini sebelum komuni.

“Saya tidak pantas Tuhan datang kepada saya. Bersabdalah saja, maka saya akan sembuh.”

Nah cuma orang berpangkat tinggi yang paham – anak buah pasti mematuhi perintah komandan. Tuhanku itu komandan segala sesuatu. Kalau Dia bersabda A, A pasti terjadi.

2. Tuhanku yang reliable, di mana pun, kapan pun, melawan apa/siapa pun

Rasa aman dari availability Tuhanku ini membuatku bahagia di tengah-tengah segala derita ataupun ketakutan saat hamil. Saat tidak ada manusia yang bisa menolongku, cukup panggil Tuhan Yesus, tolong! dan aku pun selamat. Anak dalam kandunganku juga. Remember that, Gloria! We owe our lives to Jesus.

Janie Tan pengirim setan, tunggu saja tanggal mainnya. Tuhanku sakti. Kamu bakal dilenyapkan selamanya saat kiamat nanti sementara aku dan anakku akan diangkat oleh Tuhanku! Kita tunggu saja who will have the last laugh! ME! 😄

3. Memori tulus dari anak-anak

Setelah punya anak, aku makin mengerti ucapan Tuhan tentang anak-anak. Mereka tulus dan empunya Kerajaan Surga.

Ciuman pertama dari Gloria saat aku hamil adiknya. Peluk cium manja Greg almost anytime: “Sudah lama gak cium Mama!” Segala bentuk kenakalan/kepintaran mereka.

Serio (Greg’s) dan Charlie (Gloria’s)

4. Didikan dari orang tuaku

Makin tua, aku makin sadar bahwa ortuku mendidikku dengan benar. Beda jauh kalau dibandingkan dengan para sepupu or even my own husband, yang ortunya memanjakan anak, anak cewek lebih dikerasi, etc.

Mama Papaku setara dan kompak dalam mendidik anak. Itu yang paling penting dari tugas sebagai orang tua. Aku selalu menekankan ini ke suami. Tidak ada diskriminasi anak cewek/cowok. Semua kukasih equal chance, pelajaran yang sama.

Aku bahagia ortuku tegas ngajari yang benar dan yang salah. I also had fun. Anak kelas 2 SD masuk siang (09.30) boleh ikut nonton film detektif bersama ortu pukul 21.30-22.30! Sampai teman jadi ikutan, bargaining power: “Yunisa aja boleh nonton sama Mama Papanya!” 😎

5. Teman-teman baikku

Dari berbagai usia, gender, suku, agama. Aku itu “asal cocok” ngomongnya. Kualitas teman-temanku TOP BGT. World class. Dan aku yakin itu anugerah Tuhan, kok aku bisa kenal dengan mereka, kok mereka bisa “tahan” bertahun-tahun kenal aku. Kok ada aja yang bantu aku saat aku butuh dibantu. Tante Jo, Dr Dede, Magda, Rusma yang sekarang jauh di India, Dr Budiono, Dr Kathryn, Venny, Annita, Rurun, Andriani, Telly, oh ya dari Magda juga ada Diana & Jenn, alm Pak Harry, alm Suhu Gede to name a few. Juga ci Silvi SU Bumi, Ira Juwita, Sophie, Pak Janto yang bantuin pas paspor kejambret, Om Gun yang kopdar nyetir sampai Cupertino… I am indeed very blessed.

Meski 2 sudah RIP, aku tetap mensyukuri keberadaan mereka dan beberapa tahun persahabatan kami. Through our conversation, I learnt a lot about life.

My friends, my blessings, my treasure.

6. Suami kalau lagi baik

Aku sudah komplain banyak karena suami tidak seperti yang kukenal zaman dulu banget: scientific, enak ngobrol, pengetahuan luas, mau belajar banyak hal baru, sabar, sepertinya rajin. Setelah menikah, walahualam. Ketauan betapa messy, pikun, malas… yang semuanya perlu diteriakin istri.

Meski susah banget, akhirnya suami lebih mendingan sekarang daripada tahun-tahun awal menikah. At least socks sudah dipasangkan, baju kotor sudah masuk ember cucian, mau mengembalikan barang pada tempatnya (meski masih sering lupa).

Belakangan ini suami juga rajin menonton YouTube pengetahuan seperti arkeologi kota-kota kuno zaman Raja Daud, peradaban Mesir, sesi kuliah di Harvard tentang utilitarian, konsep greater good tidak selalu bagus etc. yang kembali menunjukkan bahwa kami masih “sepemikiran” seperti awal-awal kenal.

Suami juga lebih sadar istri jadi sakit kalau kecapekan, jadi mau takeover siapin dinner anak, cuci piring, mempraktikkan partnership at home. Apalagi sudah lama no live-in maid.

Suami juga mau mengorbankan game (paling gak penting!) kalau istri benar-benar tidak bisa meninggalkan apa yang sedang dikerjakan. Padahal awal-awal punya anak, istri harus mau “drop everything at once” dan mendahulukan travel suami sampai aku jengkel banget, merasa diremehkan? (Ingat poin No. 1 Tuhanku perhatian sama anak-anak dan wanita)

7. My own awareness of myself

Narsis? Nggak lah. Aku kenal diriku sendiri. Aku tau bakatku banyak. Aku tau sekarang aku jauh lebih bodoh daripada aku SMP-SMA kalau diikutkan acara kuis Countdown di Inggris. Otak sudah gak gerak cepat. Meski suami sering menghibur, aku masih lumayan cepat mikirnya dalam menjawab di Countdown/Wheel of Fortune. (Dan aku masih lebih ingat banyak trivia biologi, sejarah, hal-hal aneh seperti cacing wawo dan palolo yang disukai G2).

Aku menerima diriku dan berusaha menjadi versi terbaikku sebisaku. Itu yang paling penting sebagai manusia, kan?

Tag:,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *