Antara kamu, Yunisa KD, dan novel-novelnya

Yang Dirindukan saat Ramadan

Yunisa KD • May 1, 21 • CoretanTidak ada Komentar

KBBI – Ramadan ya, bukan Ramadhan.

Kalau ngomongin “yang dirindukan”, otakku selalu mikir MAKANAN πŸ˜†

Kalau nggak ada Covid, dan pas di rumah ortu, mbaknya banyak, selalu ada: KOLAK, pisang goreng (yang ini mah Mamaku!), dan variasi es (es kolang-kaling, es hunkwe, es cincau…)

Zaman alm Oma masih hidup dan Ramadan aku pas pulang Yogya, Oma suka beli jajanan di kampung “lupa namanya” yang deretan jalan menuju Keraton. Padahal menurutku rasanya ya biasa. Sebenarnya jauh lebih enak yang dibikin mbak di rumah hahahahha 🀣 tapi yah namanya menyenangkan hati nenek, ikutin aja jalan-jalan.

Dulu punya pembantu banyak, gak ada yang “bersemangat Ramadan”. Beda jauh sama mbak-mbak di Yogya yang semangat kebersamaan tinggi. Dikasih uang belanja ekstra selama Ramadan, mbak di sini yang bertugas belanja mikirnya gimana bisa kukorupsi sendiri, gak dibagi-bagi untuk kesejahteraan makan selama Ramadan.

Asu-dahlah. Sudah kutendang jauh itu orang clemer, keset, gak guna, cuma bikin emosi. Merasa dirinya “dipakai” karena bekas pegawai Mama, padahal yang gaji di rumahku ya AKU.

Dulu Mama takut aku kecapekan bla bla, perlu pembantu banyak. Eh padahal 2 balita juga selalu nempel aku dari bangun sampai tidur. Malah pembantu banyak itu merepotkan, drama banget berantem di antara mereka sendiri, rumahku juga gak bersih kalau aku gak teriakin untuk sapu pel (tidak ada kesadaran itu tugas mereka). Kamar mandi khusus mereka aja JOROK pol. Ini aku paling jengkel.

Mending panggil pembantu khusus bersihin rumah via aplikasi. Rumah jauh lebih bersih. Jatuhnya juga jauh lebih murah daripada useless live-in maids. Dan aku gak emosi jiwa πŸ˜‡

Anyway, soal pisgor ini dulu tetangga jual. Menurut Mama yang “connoisseur” pisgor, termasuk kategori enak. Mamaku itu hampir tiap hari makan pisgor. Sampai aku komplain: mbok kalau aku pulang ke Yogya, jangan dipaksa makan pisgor terus πŸ˜…

Ada pisgor yang kuakui enak, somewhere di Tangerang deretan Soto Betawi Haji Mamat. Aku asli lupa namanya. Karena aku bukan penikmat pisgor.

Tetanggaku yang jualan pisgor itu dalam hitungan bulan, tutup, ganti jual lele-ayam-bebek-nila goreng. Dan akhirnya tutup lagi for good. Mamaku sedih karena kehilangan “decent” pisgor tiap mengunjungiku πŸ˜… Karena Mama tau, anaknya ini gak suka pisgor, lebih milih makan pisang langsung seperti monyet.

BTW di Singapore itu orang bilangnya goreng pisang (bukan pisgor), don’t ask me why. Jangan dibandingkan sama pisang goreng Indonesia. Kualitas pisangnya aja beda. Goreng-menggoreng itu jauh lebih jago orang Indonesia. Atau mungkin aku memang lebih suka pisang murni daripada produk olahannya.

“Goreng Pisang” di Singapore

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.