Between you, Yunisa KD, and her novels

Si Pokil Mau Jalan-jalan Gratis

Yunisa KD • Jan 8, 19 • UncategorizedNo Comments

#30haribercerita

Duh, aku merasa tertampar dengan kolom curhat Dear Demetria ini…

Janie Tan selalu mau ikut aku jalan-jalan keliling dunia. Seingatku, kami keliling Eropa 4 kali, keliling California, weekend trip ke Bali, Phuket, Genting, Bintan. Bahkan aku jalan-jalan dengan ortu ke Hong Kong – Makau pun dia minta diajak.

Sepanjang liburan keluarga, ibuku mengomel terus karena harus selalu “menunggu Shin Yee” – bangun siang, mandi lama, dandan lama – padahal sebenarnya mukanya jadi makin jelek saja dengan kemampuannya merias wajah. Hanya saja waktu itu aku tidak berani berterus terang. Setiap aku bangun di sisinya, hatiku menjerit, “Ya Tuhan, kok mukanya jelek sekali. Mengapa aku tidak bangun tidur, memandang wajah wanita yang lebih cantik?”

Nah, Janie itu kalau minta jalan-jalan, ngomongnya manis banget tentu saja, sambil buka baju. Cowok mana ada yang bisa menolak acara berbugil ria meskipun dia tidak bisa dibandingkan dengan artis yang konon sekali main 80 juta. Tapi total kerugianku, bisa 80 juta kali berapa ya? Wah, tambah menyesal aku jadinya.

Ketika aku pernah berhitung pengeluaran dan memintanya berkontribusi pada bujet jalan-jalan, Janie Tan selalu berkata, “Gajimu lebih besar, sudah seharusnya kamu yang bayar semua.” Mantra ini diucapkan berulang-ulang selama 7 tahun sampai aku bosan.

Padahal gajiku tidak sampai 2x gajinya. Prinsipnya: Uangku adalah uangnya, dan uangnya tetap uangnya.

Itu emansipasi? Feminisme? Bah! Itu perampokan! Penyesalan memang selalu datang terlambat.

Seperti kata Demetria di artikel, “pacar” itu bukan siapa-siapa. Janie Tan belum jadi istri, sudah merasa entitled, berhak dibayari segalanya. Seharusnya, kalau cewek pokil kepengin jalan-jalan, ya mbok minta bapaknya. Eh lupa, bapaknya juga bukan orang kaya. Jadi kesempatan jalan-jalan ya hanya didapat dari buka baju dan nodong “pacar”… tinggal dijadwal saja pacar yang mana, tanggal berapa.

Setelah aku menikah, barulah aku tahu, kalau Janie juga menjalin banyak hubungan dengan para lelaki: mendatangi apartemen dan bugil jika ingin sesuatu (jalan-jalan, tas bermerek, perhiasan, mostly). Pantas saja ibuku menyebutnya SUNDEL (ucapkan dengan logat Jowo).

Entah mengapa dengan wajah dan body sepertinya kok banyak laki-laki yang mau, termasuk aku. Orang-orang bilang, ini jelas ada dukun bertindak.

Selama tujuh tahun aku “jalan” dengan Janie, orang tuaku jengah melihat hubungan kami. Papa menyuruhku menikahinya. Tetapi dia tidak mau, meski cincin berlianku diambilnya, dan dipakainya sebagai engagement ring dalam pesta pernikahannya dengan suaminya sekarang. Bayangkan saja. Ini nyata dan aku punya buktinya.

Dahsyatnya lagi, dia masih berharap aku mau membayarinya jalan-jalan! Alasannya, suaminya pelit, memperlakukan dia dengan tidak baik, blah blah. Dia tidak mikir ya, aku sekarang sudah punya istri yang cantiknya seperti bidadari, punya penghasilan sendiri, dan tidak pernah minta dibayari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *