Between you, Yunisa KD, and her novels

Steak, Nyamuk, dan Suami

Yunisa KD • Jan 12, 19 • Scribbles, Food ReviewNo Comments

#30haribercerita

Lidah api berkobar di atas bebatuan yang tersusun rapi, menjilat-jilat angin yang bertiup mengencang. Beef steak wagyu, menu termahal di situ sudah tersaji. Minuman cokelat panas dan jus pun telah siap diteguk.

Perayaan #anniversarydinner siap dimulai. Namun kondisi badan pasca muntaber tidak berkompromi. Badan masih lemas sekali.

Seperti yang ditebak, kalau mau makan steak ya makanlah di pedalaman Amerika, jangan makan di Asia, apalagi Indonesia. Diminta medium rare juga pasti jadinya medium atau malah well done karena irisan daging ketipisan dan terlalu melebar. Apalagi koki lokal lupa kalau ini salted butter dan masih dikasih garam sampai asin pol #foodreview

Aiyah, kalau lagi ngidam steak ya lebih baik minta suami mandori tukang daging sapi impor di supermarket, “Mas, potongannya yang tebal, tidak usah lebar.”

Lalu suami akan mengeluarkan termometer dagingnya. Meski tidak seenak di Omaha ataupun Atlanta, steak masakan suami baik hati jelas lebih enak daripada steak resto Indo, meski bumbunya bule minimalis – butter, salt, black pepper.

Oh ya terus steak-nya minta dipotongin suami (istri CTS tidak jago potong memotong), lalu dimakan di depan TV, sembari suami sadar diri olahraga mengayun raket nyamuk.

Suamiku memang paling jago membunuh nyamuk sedunia. Selalu ada kepuasan batin mendengar CETERRRRR ataupun mencium bau gosong nyamuk yang kesetrum.

Manfaat main game terbesar si suami menurutku adalah top notch hand-eye coordination, sehingga dia sigap dan cepat melihat nyamuk yang berseliweran. Sering capitan jarinya bisa membunuh nyamuk, seperti di film silat.

Other than that, hobinya main game bikin istri emosi jiwa sejak hamil anak kedua. Istrinya encok pegal linu, eh suami lebih memilih memijat gadget meski beralasan: kan aku main game yang kamu terjemahin…

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *